Bab Dua Puluh Lima: Lebih dari Sekadar Hubungan Itu
Halaman 1/3
Mendengar nama Qiao Qingmian, sorot mata Qiao Weiwei seketika meredup.
“Kau mengenalnya?”
Qiao Weiwei hanya bertanya dengan nada menyelidik.
“Tidak, hanya saja rasanya dia tidak asing. Sepertinya aku pernah melihatnya di perusahaan kakakku.”
Sudut bibir Pei Jiao terangkat membentuk senyum penuh arti. Ia tampak sungguh-sungguh berusaha mengingat.
“Dia dibawa pulang oleh ibu tiriku. Bagaimanapun juga, dia bisa dibilang kakakku. Kakakku hanya lulusan akademi biasa, jadi aku juga tidak menyangka dia bisa masuk ke Perusahaan Pei. Sekarang dia bekerja di bagian penjualan.”
Meski Qiao Weiwei menunjukkan wajah penuh keprihatinan, nada bicaranya sebenarnya sarat sindiran.
Bagaimana mungkin Pei Jiao tidak menyadarinya?
“Mungkin itu karena dirimu. Kakakku sangat menyukaimu. Mungkin karena berpikir dia adalah kakakmu, jadi kakakku memberinya pekerjaan.”
Pei Jiao menjawab sambil berjalan bersama Qiao Weiwei menuju sofa dan duduk.
“Sudahlah, jangan membicarakan kakakku. Ini parfum keluaran terbaru dari merek terkenal yang kuminta seseorang membawanya dari luar negeri. Kau bisa mencobanya.”
Qiao Weiwei mengeluarkan hadiah yang telah dipersiapkannya.
“Terima kasih, Kak Weiwei, atas hadiahnya.”
Saat menerima hadiah itu, Pei Jiao menunjukkan ekspresi seolah-olah sangat menyukainya. Namun, parfum keluaran terbaru dari merek terkenal seperti itu biasanya sudah lebih dulu dikirim ke mejanya, jadi tidak ada yang benar-benar terasa istimewa baginya.
“Pei Jiao, kakakmu…”
Qiao Weiwei tampak ragu-ragu untuk melanjutkan.
“Ada apa?”
Melihat sikap Qiao Weiwei yang seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi menahannya, Pei Jiao bertanya dengan heran.
“Aku hanya berpikir, kakakmu begitu sibuk bekerja. Menurutmu, kalau aku pindah dan tinggal bersamanya, bukankah aku bisa merawatnya?”
Qiao Weiwei mengangkat kepala dan menatap Pei Jiao. Sejak dulu ia ingin tinggal bersama Pei Shiyan. Setelah semuanya berjalan sesuai rencana, Pei Shiyan pasti akan menjadi miliknya. Namun, dengan begitu banyak perempuan yang mengelilingi Pei Shiyan, Qiao Weiwei tetap merasa cemas.
“Kak Weiwei.”
Pei Jiao meraih tangan Qiao Weiwei.
“Tenang saja. Aku akan membicarakan hal ini dengan Kakak. Kalau kau berada di sisinya untuk merawatnya, tentu aku juga akan merasa jauh lebih tenang.”
Bagaimana mungkin Pei Jiao tidak memahami maksud Qiao Weiwei? Perempuan itu ingin memanfaatkan dirinya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
“Tetapi, kita belum bertunangan. Rasanya memang kurang pantas kalau kita tinggal bersama.”
Qiao Weiwei menundukkan kepala dengan malu-malu.
“Kak Weiwei, kalau begitu aku tinggal meminta Kakak segera bertunangan denganmu. Kebetulan aku sudah kembali. Aku pasti akan menyuruhnya segera datang melamarmu.”
Pei Jiao mengatakannya dengan sangat wajar, seolah-olah ia sudah menganggap Qiao Weiwei sebagai kakak iparnya.
Halaman 2/3
Qiao Weiwei tersenyum malu dan tidak mengatakan apa-apa. Namun, masing-masing dari mereka menyimpan niatnya sendiri.
Pei Jiao tentu berharap Qiao Weiwei menikah dengan keluarganya. Bagaimanapun juga, perempuan itu pernah menyelamatkan nyawa Pei Shiyan. Sementara itu, Qiao Weiwei memikirkan bahwa selama berada di luar negeri, ia telah berpacaran dengan kekasihnya selama bertahun-tahun dan sudah tidak lagi suci. Agar semuanya tidak terbongkar di kemudian hari, satu-satunya cara paling aman adalah segera mendapatkan Pei Shiyan.
Hari itu, Qiao Qingmian menjalani hari yang sangat santai di kantor. Mungkin karena kejadian kemarin, tidak ada seorang pun dari departemennya yang berani mengusiknya. Jadi, sepanjang hari, tak ada yang datang mencari masalah dengannya.
Di bawah gedung apartemen, bayangan Qiao Qingmian memanjang di bawah lampu jalan. Anak-anak dari kompleks yang sama sedang bermain di bawah, tanpa beban sedikit pun.
“Tiin-tiin…”
Suara klakson motor listrik kecil terdengar. Qiao Qingmian menoleh dan melihat Cen Huan pulang dengan mengendarai motor itu.
“Tumben pulang sepagi ini. Lihat, aku membeli sesuatu yang enak.”
Cen Huan menggoyangkan kantong belanja di tangannya. Isinya adalah bahan-bahan untuk makan steamboat.
“Cuacanya sepanas ini, kau mau makan steamboat?”
Qiao Qingmian menatap Cen Huan dengan bingung.
“Ayolah, makan steamboat sambil menyalakan pendingin ruangan itu baru benar-benar nikmat!”
Cen Huan merangkul bahu Qiao Qingmian dengan satu tangan. Mereka pun berjalan bersama menuju lantai atas.
“Kau harus mencucinya sampai benar-benar bersih!”
“Yang ini sudah cukup.”
“Bumbunya jangan terlalu banyak, nanti asin.”
Keduanya sibuk ke sana kemari di dapur. Setelah beberapa saat, semua bahan akhirnya selesai disiapkan.
“Huanhuan, akhir-akhir ini apa kau sedang menghadapi masalah?”
Teringat pesan singkat yang dilihatnya tadi malam, Qiao Qingmian selalu merasa bahwa hubungan Cen Huan dan Cen Jinglai bukan sekadar hubungan kakak-adik.
“Masalah apa yang mungkin kuhadapi? Makan saja, semuanya enak.”
Cen Huan tersenyum kepada Qiao Qingmian, lalu menyuapkan sepotong besar babat sapi ke mulutnya.
Qiao Qingmian mengangguk dan menundukkan kepala, kembali menyantap steamboat.
“Mianmian, menurutmu, haruskah aku pulang?”
Cen Huan menatap Qiao Qingmian. Tangannya terus bergerak mengambil makanan, seolah-olah sama sekali tidak memedulikan persoalan itu.
“Huanhuan, selama itu bisa membuatmu bahagia, pilihlah jalan yang membuatmu bahagia.”
Qiao Qingmian tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Namun, memilih kebahagiaan sendiri tidak pernah merupakan pilihan yang salah.
Cen Huan mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
Saat itu, telepon genggam yang diletakkan di samping mereka berdering. Cen Huan hanya melirik sekilas sebelum memutuskan panggilan tersebut.
Setelah itu, suara getaran pesan terus terdengar. Pesan-pesan singkat berdatangan satu demi satu.
Halaman 3/3
Qiao Qingmian mengangkat kepala dan menatap telepon genggam di atas meja.
Cen Huan akhirnya meletakkan sumpitnya.
“Mianmian, kau makan dulu. Aku turun membeli dua botol minuman dingin.”
Setelah berkata demikian, Cen Huan langsung berdiri. Bahkan sebelum Qiao Qingmian sempat membuka mulut, ia sudah pergi.
Menatap punggung Cen Huan yang menjauh, Qiao Qingmian tak bisa menahan kekhawatirannya. Ia berjalan ke balkon dan melihat ke bawah. Tepat saat itu, sebuah mobil hitam berhenti di bawah gedung. Seseorang berdiri di samping mobil tersebut.
“Cen Jinglai?”
Mengapa dia datang? Apakah dia yang menelepon tadi?
Tak lama kemudian, Cen Huan juga muncul. Keduanya berdiri berhadapan.
Dari sudut tempat Qiao Qingmian berdiri, ia dapat melihat mereka dengan jelas. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi emosi Cen Huan tampak sangat kuat dan bergejolak.
Qiao Qingmian merasa sangat cemas. Setelah menghubungkannya dengan isi pesan yang dilihatnya tadi malam, ia seakan-akan mulai memahami sesuatu.
Pada saat itu, telepon genggam di atas meja kembali berdering, menarik pikirannya kembali.
“Halo.”
Ia mengangkat telepon.
“Nona Qiao, biaya rawat inap dan biaya pengobatan Nyonya Fu harus segera dibayarkan besok. Mohon datang ke rumah sakit besok.”
Peneleponnya adalah perawat dari rumah sakit tempat neneknya dirawat. Perawat itu memberitahukan bahwa biaya rawat inap dan pengobatan harus segera dilunasi.
“Baik, besok pagi saya akan datang.”
Setelah menjawab, Qiao Qingmian menutup telepon.
Begitu panggilan berakhir, Cen Huan kembali. Ia membuka pintu, mengganti sepatu, dan melakukan semuanya dengan begitu lancar. Sesampainya di ruang tamu, ia langsung menjatuhkan diri ke kursi dan kembali menyantap steamboat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Huanhuan, kau tidak apa-apa?”
Qiao Qingmian tetap tidak mampu menahan kekhawatirannya.
“Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?”
Cen Huan menatap Qiao Qingmian dengan senyum cerah, seolah-olah benar-benar tidak terjadi apa-apa.
“Bukankah kau bilang mau turun membeli minuman? Mana minumannya?”
Qiao Qingmian tiba-tiba menyadari bahwa pertanyaannya terdengar terlalu aneh, sehingga ia buru-buru mencari topik lain.
“Setelah kupikir-pikir, minuman dingin tidak terlalu baik. Aku akan mengambilkan susu untukmu.”
Cen Huan berdiri. Namun, saat berjalan menuju dapur, sudut matanya telah dipenuhi air mata.