Bab Empat Puluh Tiga: Perpisahan yang Tidak Menyenangkan
"Mianmian, kamu kenapa?"
Cen Huan bertanya dengan cemas setelah beberapa kali panggilannya tidak mendapat jawaban.
"Aku hampir sampai di rumah, nanti kita bicara kalau sudah sampai."
Qiao Qingmian menjawab lalu memutus sambungan telepon. Saat mendongak, ia mendapati wajah yang tak asing lagi di hadapannya.
"Cen Jinglai?"
Qiao Qingmian terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.
"Naiklah, aku antar."
Cen Jinglai sudah merasa sosok itu mirip dengan Qiao Qingmian saat melihatnya dari kejauhan, ia pun tak menyangka dugaannya benar.
Qiao Qingmian melirik sekitar, di jam seperti ini memang sudah tidak ada lagi kendaraan yang bisa ditumpangi.
"Kalau begitu, merepotkanmu."
Qiao Qingmian akhirnya masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju di jalanan, lalu berhenti di lampu merah.
"Nona Qiao, bagaimana kabar Cen Huan akhir-akhir ini?"
Setelah berpikir panjang, Cen Jinglai akhirnya memberanikan diri bertanya.
Qiao Qingmian menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu bertanya langsung padanya."
Meski tahu hubungan mereka lebih dari sekadar saudara, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah perasaan orang lain.
"Huanhuan punya sifat yang keras kepala. Aku harap kamu bisa membantuku membujuknya. Ayah dan Ibu tidak bisa menghubunginya, mereka sangat cemas."
Lampu berubah hijau, Cen Jinglai kembali menjalankan mobilnya, berharap Qiao Qingmian mau membantu membujuk Cen Huan.
"Aku akan mencoba membujuknya, tapi bagaimanapun ini adalah urusan keluarga kalian, jadi aku tidak bisa berkata banyak. Pak Cen, Anda pun tahu bagaimana watak Huanhuan."
Qiao Qingmian teringat saat terakhir kali Cen Huan pulang ke rumah sambil menangis, ia pun merasa tidak lagi memiliki kesan baik terhadap Cen Jinglai. Dulu saat pertama kali kenal, pria itu tampak seperti bangsawan yang santun, namun kini, baginya ia hanya pria biasa.
Cen Jinglai tidak lagi bicara. Ia membelokkan setir ke sebuah gang kecil, dua menit kemudian mereka sampai di depan gedung apartemen tempat tinggal Qiao Qingmian.
Cen Huan sedang menepuk nyamuk di kakinya saat mendengar suara mesin mobil. Ia mendongak dan melihat kendaraan yang dikenalnya. Dahinya berkerut saat mobil itu berhenti tepat di depannya.
"Huanhuan."
Qiao Qingmian turun dari kursi penumpang dan menemui Cen Huan yang menunggunya di bawah gedung.
"Mianmian, kenapa kamu..."
Cen Huan baru saja hendak bertanya lebih lanjut, namun Cen Jinglai juga ikut turun dari mobil.
"Aku kebetulan bertemu Pak Cen di jalan tadi. Bagaimana kalau kita ajak dia mampir ke atas untuk minum?"
Qiao Qingmian merasakan suasana yang canggung, ia menatap Cen Huan, menunggu jawaban.
"Hmm."
Meski kesal, Cen Huan tetap menyetujuinya karena pria itu telah mengantar Qiao Qingmian pulang.
Cen Jinglai mengikuti mereka dari belakang. Sejak Cen Huan pindah ke sini, ia baru pernah datang sekali dan tidak pernah lagi naik ke atas karena setiap pertemuan selalu berakhir dengan pertengkaran.
"Pak Cen, silakan diminum."
Qiao Qingmian menuangkan air dari dapur. Ia melihat Cen Jinglai yang tampak gelisah melihat ke sekeliling, lalu menyodorkan segelas air ke meja di depannya.
"Huanhuan, minumlah."
Cen Huan duduk di samping dengan wajah masam.
"Huanhuan, soal waktu itu, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak membentakmu."
Setelah terdiam cukup lama, Cen Jinglai akhirnya angkat bicara. Namun, Cen Huan tidak bereaksi apa-apa dan hanya meminum airnya.
"Kalian mengobrollah dulu, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Qiao Qingmian dengan sangat pengertian meninggalkan ruang tamu dan kembali ke kamarnya.
Setelah Qiao Qingmian pergi, Cen Huan tetap bungkam. Ia mengundang pria itu naik semata-mata karena ia telah mengantar Qiao Qingmian pulang, tetapi urusan pribadi tetaplah berbeda.
"Huanhuan, pulanglah. Ayah dan Ibu sangat merindukanmu."
Cen Jinglai kembali bersuara, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Memangnya itu ada hubungannya denganku?"
Cen Huan mendongak, matanya penuh dengan tatapan meremehkan. "Cen Jinglai, untuk apa berpura-pura di sini? Kalau memang berniat minta maaf, kenapa harus menunggu sampai hari ini?"
Hati Cen Huan dipenuhi kemarahan. Ia tidak puas dengan sikap Cen Jinglai yang sama sekali tidak menunjukkan ketulusan.
"Huanhuan, hari itu aku hanya terlalu emosional, tapi kamu tahu sendiri, Tang Wan..."
"Berhenti."
Cen Jinglai belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dipotong.
"Jangan sebut namanya lagi di depanku. Bagaimana kondisinya sama sekali bukan urusanku. Urus saja dia dengan baik. Bukankah sejak dia keluar dari panti asuhan kamu memang selalu mengurusnya? Teruskan saja."
Nada bicara Cen Huan penuh dengan sindiran tajam. Ia tahu betul orang macam apa Tang Wan itu, jadi tidak perlu bagi Cen Jinglai untuk memuji-mujinya di depan dirinya.
Cen Jinglai terdiam. Ia sudah terbiasa dengan sifat Cen Huan yang selalu meledak-ledak setiap kali mereka berbicara.
"Huanhuan, aku benar-benar berharap kamu mau pindah kembali. Sudah terlalu lama kamu di luar, Ayah dan Ibu selalu mengkhawatirkanmu. Pikirkanlah baik-baik, kalau sudah mau pulang, telepon aku, nanti aku jemput."
Cen Jinglai menoleh kembali. Ia tahu, dengan sifat Cen Huan, mustahil membawanya pulang sekarang.
"Jadi aku harus berterima kasih?"
Cen Huan menggenggam erat gelas airnya, lalu tiba-tiba tersenyum pada Cen Jinglai.
"Apakah Ayah dan Ibu merindukanku atau tidak, aku tahu sendiri. Tidak perlu kamu yang terus-menerus memberitahuku. Cen Jinglai, kalau tidak ada hal lain, silakan pergi."
Cen Huan sudah tidak tahan lagi dan langsung mengusirnya.
Namun, Cen Jinglai tidak beranjak. Ia menatap wajah Cen Huan yang tampak kesal. Sejak kecil, setiap kali ada hal yang membuatnya tidak nyaman, ia akan selalu mengerucutkan bibir sebagai tanda protes.
"Huanhuan, ini kartu untukmu. Aku tahu kamu sedang mencari pekerjaan, jangan terlalu memaksakan diri."
Cen Jinglai mengeluarkan kartu bank dari dompetnya. Sejak Cen Huan keluar dari rumah, orang tuanya memang telah memutus seluruh akses keuangannya.
Melihat kartu di atas meja, Cen Huan merasa itu adalah sebuah penghinaan.
"Ini uang Ayah dan Ibu. Kalau aku menginginkannya, aku akan meminta sendiri pada mereka. Tidak perlu kamu yang membawakannya untukku."
Kata-kata Cen Huan sangat pedas, ia sama sekali tidak berniat menerima kartu itu.
"Huanhuan, apakah harus bicara seperti ini?"
Cen Jinglai berusaha menahan kesabarannya karena ia sadar dirinya memang bersalah, namun ia tidak menyangka sifat Cen Huan menjadi semakin buruk.
"Ya, aku memang ingin bicara seperti ini. Kalau tidak tahan, kamu bisa pergi, kan? Memangnya aku memaksamu duduk di sini?"
Cen Huan tiba-tiba meledak. Ia berdiri dari sofa dan menunjuk ke arah pintu.
Cen Jinglai mengembuskan napas panjang dan merendahkan suaranya.
"Huanhuan, kalau ada yang kamu butuhkan, segera telepon aku. Aku pergi dulu."
Ia bangkit dan melangkah pergi.
"Brak..."
Tiba-tiba, suara keras terdengar dari belakang.
Qiao Qingmian di dalam kamar mendengar keributan itu dan segera keluar dengan cemas.
"Huan... Huanhuan..."
Qiao Qingmian menatap pemandangan di depannya dengan tidak percaya, ia segera menghampiri Cen Huan.
"Cen Jinglai, jangan pernah lagi mengganggu hidupku, dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Cen Huan berucap dengan kepala tertunduk, seolah sudah membulatkan tekadnya.
Langkah kaki terdengar menjauh, Cen Jinglai pergi dari sana dan menutup pintu.