Bab Empat Puluh: Aku Mulai Merasa Sesuatu
Song Kai duduk di dalam mobil, merasa sedikit bimbang, tidak tahu apakah sebaiknya ia turun mencari “pacarnya” itu.
Wang Yuan berdiri dengan tidak sabar di tempatnya. “Chen Jian! Berdirilah! Aku sudah tidak mau bicara denganmu lagi, muak lihat tampang munafikmu! Kalau mau pergi, pergi sana! Sekarang aku sudah punya pacar baru!”
Chen Jian yang tergeletak di tanah mendengar itu, langsung bangkit, menatap Wang Yuan dengan penuh amarah. “Sialan! Pantas saja kau selalu menolak aku, ternyata kau main dua kaki, berani-beraninya mengkhianatiku! Dasar perempuan jalang, tiap hari pakai baju minim, lagak sok suci, nggak mau disentuh, sekarang rasakan sendiri!”
Chen Jian matanya memerah, ia langsung merangkul Wang Yuan dan menyeretnya ke arah mobil BYD yang tak jauh dari situ.
“Lepaskan aku! Dasar brengsek!” Wang Yuan berteriak, lalu menggigit lengan Chen Jian.
Saat itu, dua mahasiswa lain turun dari mobil. Mereka berdua mencoba menengahi. “Apa-apaan ini! Nggak bisa baik-baik ngomong?”
“Iya, kayak mau memperkosa saja.”
Orang-orang yang lewat awalnya ingin membantu, tapi begitu melihat situasinya, mereka ragu dan mengira ini hanya pertengkaran biasa antara laki-laki dan perempuan.
Kedua pria yang baru turun itu ikut menahan Wang Yuan dan mencoba mendorongnya masuk ke mobil.
Song Kai mengernyitkan dahi, ia jelas melihat Wang Yuan benar-benar berjuang keras, ia buru-buru membuka pintu mobil lalu berlari menuju BYD itu.
“Kalian sedang apa! Hentikan!” Song Kai berteriak keras.
Salah satu pria menoleh, lalu tertawa. “Santai, Kak, cuma bercanda. Teman sekamar saya sama pacarnya lagi ada masalah, makanya mau ajak jalan-jalan bareng, namanya juga cewek, kudu dirayu.”
Song Kai menatap tajam, mendorong pria itu ke samping dan melangkah maju. Dengan satu tendangan keras, ia membuat Chen Jian terjungkal ke tanah.
“Kamu siapa, sialan!” Chen Jian menunjuk Song Kai.
Wang Yuan yang sudah menangis, segera berlari ke arah Song Kai, merangkul lengannya erat-erat. “Paman Kecil, makasih sudah datang! Kenapa baru sekarang! Kalau kau telat sedikit saja, aku sudah diapa-apain sama bajingan-bajingan ini!”
Song Kai menarik napas panjang, menatap Chen Jian dengan tajam. “Pergi! Sekarang Yuan adalah perempuanku.”
“Kamu yang sudah rebut perempuan dariku!” Chen Jian murka. Ia selama ini yakin Wang Yuan menolaknya karena ada pria lain. Melihat Song Kai, ia kehilangan kendali lalu melayangkan tinju.
Song Kai menendang lagi, kali ini Chen Jian terpental hingga menabrak lampu mobil BYD.
“Mobilku… Ayahku pasti marah besar… Chen Jian, kau nggak apa-apa?” Temannya malah lebih dulu mengkhawatirkan mobil, baru kemudian bertanya keadaan Chen Jian.
Chen Jian memegangi perutnya, menatap Song Kai dengan ketakutan. Saat itu juga ia sadar, ia tak mampu menandingi pria di hadapannya.
Song Kai menunjuk Chen Jian. “Ingat, aku tidak main licik. Kalau perempuan suka padamu, dia pasti mau denganmu. Kalau kau paksa, aku buat kau jadi impoten seumur hidup!”
Selesai bicara, Song Kai berjalan ke pintu belakang BYD, menendangnya keras. “Brak, kriet!” Pintu belakang BYD itu langsung penyok parah.
“Kau…” Teman Chen Jian ingin memarahi Song Kai, tapi melihat pintu mobil penyok begitu, ia hanya bisa menelan ludah, tak berani berkata apa-apa.
Song Kai menatap Chen Jian dengan dingin.
Chen Jian berkeringat dingin. Jika tendangan itu diarahkan ke dirinya, tulang rusuknya pasti patah.
Song Kai melambaikan tangan pada Wang Yuan. “Ayo pergi.”
Wang Yuan mengikuti Song Kai sambil mengusap air mata.
Mereka berdua masuk ke mobil Buick.
Jika dibandingkan dengan Buick itu, mobil BYD benar-benar seperti bahan tertawaan.
Para mahasiswa yang menonton mulai berbisik-bisik.
“Wah, lagi-lagi cowok kaya dan ganteng merebut cewek orang!”
“Apa-apaan, tadi tiga norak itu malah mau memperkosa cewek itu!”
“Andai aku jadi cewek itu, aku juga pilih yang pakai Buick, ganteng, berani, kaya pula. Aduh, aku harus tanya, dia masih cari pacar nggak…”
Song Kai duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, melaju beberapa ratus meter. Wang Yuan baru bisa bernapas lega. “Makasih ya, Paman Kecil.”
“Ya, panggil saja aku Song Kai,” Song Kai tersenyum.
“Ketawa! Ketawa apanya! Kalau saja aku nggak nunggu kamu lama di gerbang kampus, aku nggak akan kena masalah! Kalau bukan karena janjian sama kamu, demi ngobatin kamu, aku juga nggak bakal pakai rok pendek kayak gini! Semua gara-gara kamu! Hari ini kamu harus temani aku nonton film horor!” Wang Yuan tiba-tiba berubah galak, bicara lebih cepat dari senapan mesin.
Song Kai hanya bisa mengangguk pasrah. Ia mulai mengerti kenapa banyak pria lebih suka hidup sendiri, bahkan rela bayar wanita malam daripada punya pacar. Memang merepotkan! Untung Wang Yuan cukup cantik.
“Kemana?” tanya Song Kai.
“Makan dulu, di seberang bioskop, kau yang bayar,” kata Wang Yuan.
Song Kai mengangguk, lalu wajahnya berubah gusar. “Itu… bisa nggak nunggu sampai aku gajian, baru aku traktir?”
“Apa?” Wang Yuan menatap Song Kai.
“Aku… aku nggak punya uang,” Song Kai tersenyum pahit. “Tadi lupa minta uang ke Meng Yue.”
“Dewasa tapi masih minta uang ke perempuan, dasar nggak tau malu! Hari ini kau dilarang sentuh aku!” Wang Yuan mendengus sebal.
“Aku… aku nggak niat sentuh…” Song Kai benar-benar merasa tak bersalah.
“Hmph! Hari ini aku saja yang traktir.” Wang Yuan akhirnya tertawa kecil di balik tangannya. “Paman Kecil, aku galak gini, kau takut nggak?”
Song Kai ikut tersenyum. Ia sadar, sifat Wang Yuan sebenarnya menyenangkan, setidaknya mudah diajak bicara.
Di food court, mereka makan seadanya, lalu berjalan ke bioskop.
Wang Yuan merangkul lengan Song Kai, rok pendeknya begitu menggoda di bawah cahaya malam, membuat pria-pria di sekitar mereka menoleh berkali-kali.
“Song Kai, kamu merasa bangga nggak?” Wang Yuan menggoda.
“Apa maksudmu dengan bangga?”
“Bangga jadi pria. Lihat, semua pria di sekeliling menatapmu iri, inilah rasa bangga itu. Jadi pria itu ternyata enak, kan?” Wang Yuan benar-benar total, bahkan saat nonton film pun masih sempat ‘mengobati’ Song Kai dengan memberi sugesti.
Song Kai hanya tersenyum, membeli tiket, lalu masuk ke studio tiga. Ruangan bioskop itu hanya terisi seperempat, siapa juga yang malam-malam nonton film horor, cari masalah saja.
Ponsel Wang Yuan berdering. Ia mengangkat, suara lelaki di seberang terdengar cemas. “Yuan, kamu di mana?”
“Di bioskop, lagi kencan,” jawab Wang Yuan.
“Hati-hati, cari tempat bersembunyi, aku segera ke sana.” Pria itu langsung menutup telepon.
Song Kai mendengar suara itu, bertanya, “Ada apa?”
“Aku juga nggak tahu, kakakku memang aneh, ngomongnya ngawur, nyuruh aku hati-hati. Hati-hati sama kamu, kali? Hihihi.” Wang Yuan menarik tangan Song Kai duduk di pojok, mereka memeluk popcorn dan mulai menonton.
Film yang diputar adalah film Hong Kong, “Kebangkitan Zombie Tujuh Hari”, tidak terlalu menakutkan, ceritanya pun biasa saja.
Baru beberapa menit menonton, Wang Yuan sudah bosan. Ia menoleh ke Song Kai.
Song Kai masih asyik makan popcorn, tapi merasakan tatapan Wang Yuan, ia pun menoleh, berbisik, “Ada apa menatapku?”
“Song Kai, andaikan kamu nggak sakit, pasti menyenangkan,” Wang Yuan tiba-tiba berkata.
“Eh… aku nggak sakit,” Song Kai membantah.
Wang Yuan tertawa, “Oke, oke, kamu nggak sakit. Tapi aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
Wang Yuan sedikit memerah, tapi di bioskop gelap, tak ada yang tahu. “Song Kai, bagian bawahmu… bisa… bisa keras nggak?”
Song Kai hanya bisa terdiam.
“Jangan malu, aku sudah janji sama Cheng Xing, aku pasti bantu sembuhkan kamu.” Wang Yuan menyandarkan tubuhnya ke pundak Song Kai, “Aku cuma ingin tahu seberapa parah penyakitmu.”
“Bisa… bisa, sepertinya bisa,” jawab Song Kai, “Masih bisa keras.”
“Eh? Bisa? Berarti penyakitnya nggak parah dong. Biar aku coba.” Wang Yuan langsung menyentuh bagian selangkangan Song Kai.
Song Kai dalam hati mengeluh, harus bagaimana berakting kali ini. Ia menahan gejolak dalam diri, lalu berkata, “Kalau aku membayangkan laki-laki, baru bisa keras.”
“Pfft!”
Wang Yuan sampai menyemburkan napas ke wajah Song Kai.
Song Kai menggaruk kepala.
Wang Yuan berkata serius, “Song Kai, penyakitmu parah sekali, masa suka laki-laki? Bukankah tubuh wanita lebih baik? Gimana kalau coba sama aku?”
“Eh? Coba apa?” Song Kai pura-pura bodoh.
“Coba sentuh tubuhku,” Wang Yuan menarik tangan Song Kai ke pahanya.
Untung saja Wang Yuan menyadari tubuhnya tidak menolak sentuhan Song Kai. Mungkin karena tadi ia diselamatkan, atau di lubuk hatinya, Wang Yuan sudah menganggap Song Kai seperti perempuan.
Song Kai mengelus perlahan.
“Gimana? Ada perasaan?” Wang Yuan berbisik, toh di bioskop gelap, tak ada yang melihat.
Song Kai menggeleng, tentu saja ia harus geleng, meski dalam hati gejolaknya mulai membara.
Wang Yuan berbisik lagi, “Coba lebih dalam… aduh, badan sebagus ini masa nggak bisa menyembuhkan penyakitmu.”
Tangan Song Kai benar-benar bergerak ke bagian paha terdalam Wang Yuan. Begitu halus, pantas saja gadis ini berani pakai rok sependek itu, kakinya memang sangat menggoda.
Gejolak dalam diri Song Kai makin membara, berubah menjadi energi panas yang menyebar ke seluruh tubuh.
Wang Yuan tiba-tiba merasakan tangan Song Kai makin panas, bahkan ada hawa hangat yang menjalar ke tubuhnya, hingga ke paha dan perut bawah, membuatnya geli dan gelisah.
“Aduh!” Wang Yuan terkesiap.
Tangan Song Kai masih berada di bawah rok Wang Yuan, ia pura-pura bertanya, “Kenapa?”
“Kamu belum juga bereaksi?” Wang Yuan cemberut.
“Nggak, mau coba lebih dalam lagi?” tanya Song Kai.
“Sudah, aku… aku malah bereaksi, dasar Song Kai sialan… tanganmu panas sekali!” Wang Yuan mengeluh, nadanya lirih tapi menggoda.
Song Kai tertawa dalam hati, tangannya masih bermain di bawah rok Wang Yuan. Ia berpikir, apa perlu Wang Yuan digoda lebih jauh.
“Sudah, cukup, cukup!” Wang Yuan buru-buru menyingkirkan tangan Song Kai, napasnya terengah-engah. “Kamu… tanganmu kenapa sih? Aku… aku sampai basah gara-gara kamu.”
“Basah apa?” Song Kai tetap berpura-pura polos.
“Nggak mau ngomong sama kamu lagi,” Wang Yuan tersengal. “Astaga, Song Kai, kalau kamu laki-laki normal, pasti banyak perempuan yang bakal jadi korbanmu.”
Song Kai baru mau membantah, tiba-tiba tiga sosok muncul, berjalan mendekat dengan sikap tak bersahabat.
“Itu dia!” Salah satu dari mereka menunjuk Wang Yuan.