Bab 33: Seseorang yang Memang Sudah Baik
"Aku lihat kakak iparmu berlari seperti dikejar anjing, aku takut dia menghabiskan makanannya!"
Jawaban Lin Xiangdong membuat Lin Yexi tertegun, ia pun melirik kakak ipar tertuanya, Li Ping.
Li Ping bahkan tidak mengangkat kelopak matanya, ia dengan lihai melayangkan pukulan ke arah Lin Xiangdong sambil berkata, "Pergi sana!"
Lin Xiangdong terkekeh, ia mengambil baskom air di lantai lalu menjawab, "Baik! Aku pergi mencuci di sana saja!"
Ada ikan untuk dimakan di rumah, sungguh membahagiakan! Bahkan jika disuruh mencuci di toilet pun ia mau.
Lin Yexi yang terhibur oleh tingkah keduanya berdiri di bawah atap rumah sambil tersenyum menahan tawa. Saat itu, kakak kedua, Lin Xiangnan, dan kakak ipar kedua, Zhang Cuicui, juga baru kembali.
Lin Xiangnan berjalan satu langkah di belakang kakak iparnya. Lin Yexi melihatnya sesekali menunduk dan berbisik kepada sang kakak ipar. Entah apa yang dikatakannya, telinga Zhang Cuicui tampak memerah.
Lin Yexi membatin, "Tidak kusangka kakak kedua seperti ini!"
"Kakak kedua, Kakak Ipar kedua!" sapa Lin Yexi dengan senyum tipis.
Kakak ipar kedua menjawab dengan malu-malu, lalu terdiam. Sementara itu, Lin Xiangnan bersikap jauh lebih santai. Ia menyiapkan sebaskom air untuk kakak iparnya, sementara ia sendiri mengambil gayung dan menyiramkan air dingin ke tubuhnya dengan santai.
"Dari mana dapat ikan ini?"
Lin Yexi tidak menyangka orang pertama di rumah yang menanyakan asal-usul ikan itu adalah Lin Xiangnan. Ia pun mengeluarkan alasan yang sudah disiapkannya, "Aku membendung air di sungai kecil dekat Gunung Barat, lalu menusuk-nusuknya dengan ranting pohon, dan berhasil mendapatkan dua ekor."
Perkataan itu tujuh bagian benar, tiga bagian bohong. Waktu, tempat, dan cara menangkapnya benar, hanya saja ia menyembunyikan kemampuan aslinya.
Lin Xiangnan mengernyit mendengar jawaban itu lalu bertanya, "Kamu pergi ke gunung sendirian?"
"Aku hanya ingin mencari jamur. Karena tidak hujan, jamur sulit ditemukan. Sambil berjalan, aku sampai di tepi sungai. Di sana banyak ikan, jadi aku mencoba membendung airnya. Sebenarnya ada belasan ikan yang terjebak, tapi aku tidak bisa menangkap semuanya!"
Lin Yexi menjelaskan kembali. Lin Xiangnan merasakan kekhawatiran adiknya, ia mengusap kepala Lin Yexi dengan tangannya yang basah seraya berpesan, "Lain kali jangan pergi ke gunung sendirian, mengerti?"
Lin Yexi menepis tangan Lin Xiangnan dengan nada kesal, "Tahu, Kak! Kakak menyalahgunakan kekuasaan!"
Sudut bibir Lin Xiangnan terangkat. Tangan satunya lagi dengan cepat mengacak-acak rambut Lin Yexi hingga berantakan sebelum menarik diri.
"Ini bukan menyalahgunakan kekuasaan, ini namanya memberi pelajaran agar kamu ingat!"
Setelah menggoda, Lin Xiangnan segera lari. Lin Yexi menatapnya dengan geram, namun tiba-tiba ia tersenyum.
Lin Xiangnan merasa firasat buruk, "Gawat!"
Benar saja, Lin Yexi berteriak lantang, "Kakak tertua! Kakak kedua menggangguku!"
Lin Xiangdong, pria yang berotot dan lugu itu, segera berlari menghampiri dan melakukan gerakan mengunci leher yang sudah sangat familiar pada Lin Xiangnan.
"Dasar adik nakal! Berani-beraninya mengganggu adik bungsu!"
Lin Yexi melihat kedua kakaknya yang sudah berkeluarga itu bertengkar kecil, senyum di matanya semakin dalam. Faktanya, Lin Xiangdong baru berusia dua puluh empat tahun, dan Lin Xiangnan dua puluh dua tahun, mereka masih sangat muda.
Keluarga Lin sudah terbiasa melihat keduanya bertengkar. Rasa memiliki Lin Yexi terhadap rumah ini pun bertambah. Keluarga Lin adalah orang-orang yang memang pada dasarnya sangat baik.
Pertengkaran Lin Xiangdong dan Lin Xiangnan berhenti setelah mendapat teguran keras dari Feng Huizhen. Lin Xiangnan kemudian membawa semangkuk ikan ke rumah kakek.
Setelah ia kembali, seluruh keluarga duduk di meja makan dengan antusias dan penuh harap, namun belum ada yang menyentuh sumpit.
Feng Huizhen mengambil sumpit terlebih dahulu, menjepit potongan besar bagian perut ikan, lalu meletakkannya ke dalam mangkuk Lin Erzhu.
"Pak, makanlah yang banyak."
Feng Huizhen sangat mengenal Lin Erzhu; jika ia tidak memberikannya, Lin Erzhu pasti tidak akan tega memakan potongan ikan itu.
Lin Erzhu mencoba memaksakan senyum kaku, hingga membuat Feng Huizhen mendengus, "Berhenti tersenyum!"
Senyum Lin Erzhu seketika memudar, wajahnya kembali kaku, namun matanya berbinar cerah.
Feng Huizhen menatap tatapan penuh harap dari anggota keluarganya, lalu berkata, "Sudah! Ayo makan!"