Bab 50 Kakak, Aku Sudah Sangat Sopan (Bagian Kedua)

Kota Sang Maha Dewa Cultivator Panci rebusan pedas dan harum 1258kata 2026-03-04 22:49:14

Su Yingying bangun pagi sekali, mengenakan gaun pendek putih gading dan merias wajahnya dengan lembut, lalu berjalan-jalan di alun-alun terbesar di Kota Jiahe. Hari ini adalah ulang tahun Zhang Hua, dan ia tak pernah lupa akan hari itu. Ia selalu memilih dengan cermat hadiah ulang tahun yang dekat di hati untuk kekasihnya; dari gantungan kunci hingga jam tangan, ia tak pernah menganggapnya remeh. Kali ini, Su Yingying memilih sebuah dompet Fianni berwarna cokelat dan saat hendak memintanya dibungkus oleh pelayan, pelayan itu pun bertanya, “Untuk kekasih, ya?”

Pada saat itu, Cai Ming jelas belum tidur. Ia melihat ekspresi Wang Yuan yang tiba-tiba berbeda dari biasanya—jelas Wang Yuan telah mengambil keputusan penting.

Di kediaman Sang Guru Negara, suasana menjadi sangat menekan. Para penduduk desa sangat berterima kasih pada Huang Xiaotian, sang penyelamat mereka, namun mereka sadar betul akan harga yang harus dibayar. Seseorang yang sama sekali tanpa keburukan tidak pernah ada di dunia ini; sekalipun ada, ia hanyalah wayang tanpa perasaan dan kepekaan.

Sebelum berangkat, Zhang Cuishan sempat ingin menelepon Sun Lanlan untuk memberitahukan bahwa ia akan dinas ke luar kota, namun teringat suara menggelegar yang ia dengar pagi tadi, ia pun mengurungkan niat dan hanya menulis secarik catatan.

Hal ini cukup membuat Wang Yuan kelelahan, sebab urusan seperti ini memang bukan keahliannya. Seandainya tahu akan begini, lebih baik ia membawa Cai Ming saja.

Chen Wei sudah menunggu lama, namun belum juga melihat Chai Ping kembali. Ia telah mencoba menghubunginya beberapa kali, namun tak pernah tersambung.

“Tidak... tidak usah!” Zhang Chu tersenyum canggung. Ia merasa canggung berbicara dengan putri keluarga Gu di rumah mereka, apalagi orang tua Gu juga ada di situ. Ia lebih memilih di luar, meski sedikit dingin, hatinya lebih tenang. Lagi pula, hawa dingin di luar telah dihangatkan oleh gejolak semangat di dalam dadanya.

Kediaman pejabat daerah terletak di tepi rawa kabut seratus, dan Qi Xuanyi sudah dua hari berada di sana. Ia pun bertemu banyak orang yang datang mencari peruntungan, baik dari kalangan manusia maupun bangsa siluman, kebanyakan sudah mencapai tingkat pemisahan jiwa atau penyatuan tubuh. Qi Xuanyi juga bertemu beberapa kenalan lama, namun ia tidak buru-buru menemui mereka.

Chen Wei dengan hati-hati membaringkan An Yu di sofa, menutupi tubuhnya dengan selimut tipis, lalu bangkit menuju balkon dan menelepon Liu Weina.

Di kamar seberang, An Yu berbaring di ranjang tanpa bisa memejamkan mata, bukan karena tak lelah, melainkan memang tidak bisa tidur. Beberapa malam tanpa tidur telah membuatnya bermata panda, namun satu panggilan telepon dari Chen Wei tadi semakin membuat hatinya gelisah.

Masih ada beberapa hari untuk bersiap, Zhi En tidak tinggal di rumah. Ia keluar dan kembali membawa sebuah mesin pembuat popcorn. Semua suku cadang yang kurang ia beli di kota, dan setelah dirakit di rumah, mesin itu pun berhasil ia perbaiki.

Saat bercerita tentang ini, Chai Xin menampilkan senyuman pada Mei Yulu yang bisa membuat hati siapa pun luluh. Senyum itu manis hingga ke tulang.

Hingga suatu hari, Cao Zhang menyadari bahwa ia tak punya pekerjaan lagi, lalu pergi mencari Tian Yu untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

Rumah pohon dibangun dengan cara melubangi bagian tengah pohon purba. Dengan begitu, jaringan tumbuhan tetap terjaga, pohon tidak mati, dan mereka tetap bisa menetap di sana.

Rumah yang sebelumnya ramai sontak menjadi sunyi, hanya menyisakan Guan Ning, seorang kakek tua yang duduk sendirian. Ia menengadah menatap balok langit-langit yang gelap, merasa sangat kesepian.

Penduduk Kota Galai menumpuk tanda cinta mereka diam-diam di depan pintu kediaman kepala kota. Ada yang langsung pergi setelah menitipkan pesan, namun lebih banyak yang bertahan di sana berharap dapat bertemu kepala kota meski hanya sesaat.

Petarung dari Perguruan Naga Terbang bernama Lu Dakai itu tidak lemah. Ia dengan cekatan menghindari serangan tajam pemuda berbaju putih, lalu memanfaatkan celah dan melancarkan serangan “Harimau Hitam Menerkam Jantung” ke dada lawan. Tubuhnya pun bergerak mendekat, menyapu kaki pemuda itu. Karena tak sempat menghindar, pemuda berbaju putih langsung terjatuh dari arena.

Setelah mengikuti berbagai kompetisi, para pemain pun kembali ke rutinitas harian di dunia permainan Pedang Langit: menjelajahi ruang bawah tanah, mengawal kafilah, dan bertarung di Lembah Kejahatan—semuanya berjalan seperti biasa.