Bab 12 Apakah Kau Sedang Melakukan Sesuatu di Belakangku?
Han Jingnian bertanya, “Kamu tidak senang pergi ke reuni teman sekelas?”
Awalnya, ia masih berencana mengajaknya ke pesta lain. Namun, mengingat sifat Jiang Jiusheng dan pemahamannya tentang orang-orang itu, ia tahu perempuan itu pasti tidak tertarik.
Jiang Jiusheng merasa mereka sedang membicarakan hal yang pas, jadi ia pun mendekat ke hadapan Han Jingnian, menatapnya sambil bertanya, “Kamu tahu siapa yang kutemui di sana hari ini?”
Han Jingnian menatapnya, “Kenapa memangnya?”
“Kalau kuceritakan, kamu akan marah tidak?”
Tatapan Han Jingnian jadi dalam, “Katakan saja.”
“Kamu masih ingat wanita bernama Su Fei itu?”
“Mengapa tiba-tiba kamu membicarakan dia?”
Jiang Jiusheng tak berani bicara lagi, ia merasa Han Jingnian sangat tidak suka jika ia menyebut nama Su Fei.
Kalau begitu, mungkin memang ada sesuatu di antara mereka.
Ia dan ibunya diam-diam pernah membahas soal kemungkinan Han Jingnian mencari kekasih baru di luar. Ibunya menyuruhnya bersabar, mengatakan setiap perempuan dari keluarga terpandang di Haicheng pun pernah mengalami hal yang sama.
“Kamu istirahatlah dulu, aku ke ruang kerja mengurus urusan perusahaan.”
Han Jingnian menyingkirkan Jiang Jiusheng, turun dari ranjang, mengenakan pakaian, dan sepanjang waktu hanya memperlihatkan punggung pada Jiang Jiusheng.
Jiang Jiusheng menghela napas dalam hati. Ia bertanya-tanya, apakah ia benar-benar harus hidup seperti para perempuan keluarga terpandang yang diceritakan ibunya, cukup puas hanya karena status sebagai menantu keluarga Han?
Mana mungkin Jiang Jiusheng bisa tidur? Banyak hal memenuhi pikirannya, menekan dada hingga ia nyaris tak bisa bernapas.
Han Jingnian meninggalkan kamar utama, menuju ruang kerjanya. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu berdiri di depan jendela dengan wajah kelam, mengeluarkan ponsel dan menelepon Su Fei.
“Mengapa kamu mengusik Jiang Jiusheng?”
Su Fei menjawab telepon itu dengan gembira, namun setelah mendengar Han Jingnian menghardiknya tanpa basa-basi, hatinya dipenuhi rasa kesal.
“Kakak ipar, aku tidak mengusiknya. Kakak ipar, kamu terlalu memedulikannya. Bukankah dia Nyonya Han-mu? Mana mungkin aku berani mencari masalah dengannya?”
“Kamu bertemu dengannya malam ini?”
“Kami teman satu kampus. Bukankah wajar bertemu di reuni?”
“…”
“Justru dia yang mendatangiku, menanyakan kenapa aku digosipkan denganmu. Jelas-jelas dia menargetkanku hanya karena aku bermarga Su.”
Bermarga Su?
Wajah Han Jingnian makin kelam.
Dari mana Jiang Jiusheng tahu makna khusus marga Su itu?
“Kakak ipar, Jiang Jiusheng pasti belum berani memberitahumu satu hal lagi yang ia temui di reuni malam ini, kan?”
Han Jingnian menutup telepon. Hal lain sudah tak membuatnya tertarik.
Su Fei menggertakkan gigi, kesal karena rencana yang susah payah ia persiapkan agar Jiang Jiusheng bertemu mantan di luar rumah ternyata tidak membuat Han Jingnian peduli.
Han Jingnian menggenggam ponsel erat-erat, menahan amarah di dada, lalu memutuskan keluar dari ruang kerja dan kembali ke kamar utama mencari Jiang Jiusheng.
Jiang Jiusheng sebenarnya bukan perempuan yang tampak polos seperti kelihatannya. Sebelumnya, ia tak mempermasalahkan perempuan lain yang muncul di sekitar Han Jingnian, tapi kini ia tiba-tiba memperhatikan Su Fei. Han Jingnian pun mulai berpikir untuk membereskan masalah ini sampai tuntas.
Di kamar utama, Jiang Jiusheng baru saja selesai mandi dan tengah duduk di meja rias mengoleskan krim perawatan kulit.
Tiba-tiba Han Jingnian masuk, membawa aura dingin yang sangat kuat dan tak mungkin diabaikan.
Jiang Jiusheng terkejut hingga napasnya tertahan, jarinya gemetar dan botol kecil krim mata jatuh ke lantai.
Melihat reaksi Jiang Jiusheng yang tampak bersalah, Han Jingnian langsung dikuasai amarah, melangkah dan mencengkram leher Jiang Jiusheng.
Jiang Jiusheng refleks menepuk tangan besar Han Jingnian yang mencekik lehernya, berkata tersendat-sendat karena takut, “Han Jingnian, kamu mau apa?”
Tatapan Han Jingnian jadi gelap, matanya suram tanpa setitik cahaya pun, suaranya serak dan berat, “Jiang Jiusheng, apa kamu diam-diam melakukan sesuatu di belakangku?”
Mata Jiang Jiusheng dipenuhi rasa pilu, “Apa yang sudah kulakukan?”
Ia sangat panik, takut kalau perkara ia tidak meminum obat yang diberikan Han Jingnian sampai ketahuan.
“Apa yang kamu lakukan hari ini, aku tahu semuanya.” Han Jingnian sengaja mengujinya.
Hari ini?
Jiang Jiusheng semakin gelisah. Kalau Han Jingnian sampai tahu tentang masa lalunya dengan Mo Qinghan, dan kalau ia tahu mereka bertemu lagi hari ini, ia tahu benar apa artinya bagi suaminya sekarang—sesuatu yang ibunya sudah pernah peringatkan.