Bab 33: Barangmu Tertinggal di Sini
Halaman (1/3)
Ia menggandeng lengan Raka Naratama dan berkata dengan suara lembut, “Kak Kedua, aku aman di Taman Selatan. Jadi, jangan khawatir. Kak Jovan sangat baik kepadaku.”
“Kakak tahu. Sudahlah, cepat tidur.”
Setelah melihat Jaka Mahesa dan Jovan Cakrawala selesai membereskan barang-barang mereka, Livia Nara berpamitan kepada keduanya sebelum mereka pergi.
Di kamar tidur, Livia memperhatikan Jovan yang sibuk mondar-mandir di kamar mandi. Ia mengisi bak mandi, mengambilkan piyama dari ruang pakaian, bahkan menyalakan aromaterapi.
Gerakannya begitu terampil, seolah-olah sudah melakukan semua itu berkali-kali. Jika orang-orang di luar melihat pewaris utama keluarga Cakrawala melayani seseorang seperti ini, rahang mereka pasti akan ternganga.
“Livia, airnya sudah siap. Ayo mandi.”
Teringat apa yang dilakukan pria itu kepadanya pagi tadi, wajah Livia seketika memerah hingga ke telinga.
“Pergilah, aku bisa mandi sendiri.”
Ia mendorong pria itu keluar lalu masuk ke kamar mandi. Saat mendengar pintu dikunci dari dalam, Jovan tertawa kecil.
Selagi gadis itu mandi, ia pergi ke ruang pakaian untuk mengambil piyama, lalu naik ke kamar tamu di lantai atas.
Setelah selesai mandi, ia turun dan mendapati gadis itu masih berada di kamar mandi. Ia berjalan mendekat lalu mengetuk pintu.
“Sayang, jangan berendam terlalu lama. Hati-hati, jangan sampai lukamu terkena air.”
“Aku tahu. Sebentar lagi keluar.”
Mendengar jawaban gadis itu, Jovan berbalik dan turun ke lantai bawah.
Ketika kembali ke kamar, ia membawa segelas susu.
Livia keluar dengan tubuh yang masih diselimuti uap hangat. Wajah mungilnya tampak kemerah-merahan, membuat jakun Jovan bergerak naik turun tanpa sadar.
Menyadari bahwa ia sudah menggoda gadis itu sekali hari ini, Jovan berdeham pelan lalu meletakkan gelas tersebut.
Melihat rambut Livia masih sedikit basah, ia berbalik mengambil pengering rambut dari kamar mandi.
Ia duduk di sofa dan memberi isyarat agar gadis itu berbaring.
Livia pun tidak sungkan. Setelah duduk, ia menyandarkan kepala di paha Jovan, sementara pria itu dengan hati-hati mengeringkan rambutnya.
Jari-jari panjangnya menyusuri rambut lembut gadis itu. Api dalam hatinya kembali berkobar.
Melihat gadis dalam pelukannya mulai mengantuk, Jovan menghentikan gerakannya dan menggendong Livia ke ranjang, lalu membantunya bersandar.
“Manis, minum susu dulu sebelum tidur.”
Livia tidak mengambil gelas itu. Ia hanya meneguk susu dari tangan Jovan, dan dalam tiga atau empat tegukan, hampir setengah gelas sudah habis.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Kemudian ia menggeleng. “Tidak mau lagi. Cuacanya dingin, aku tidak ingin terbangun tengah malam untuk buang air kecil.”
Jovan benar-benar gemas melihat tingkah lucu gadis itu. Ia membantu Livia berbaring dan menyelimutinya.
“Aku akan mencuci gelas ini, lalu kembali menemanimu.”
Ia menunduk dan mengecup dahi gadis itu dengan lembut.
Ketika Jovan kembali, Livia sudah tertidur pulas. Ia meredupkan lampu di sisi ranjang hingga cahaya paling samar, lalu berjalan menuju ruang kerja.
Apartemen Internasional Kaisar Jing
Mobil jip putih milik Raka Naratama terparkir di tempat parkir depan gedung tempat tinggal Jaka Mahesa. Ia menurunkan kaca jendela, mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya.
Melihat pria itu tidak berkata apa-apa dan juga tidak membuka kunci mobil, Raka mengacak rambutnya. Hatinya mulai gelisah.
“Sudah larut. Besok kau masih harus pergi ke kantor, bukan? Cepat pulang.”
Mendengar nada bicara Jaka yang sama sekali tidak berusaha menahannya, Raka tiba-tiba merasa kesal.
“Jaka, apa kau merasa sangat sulit dan tidak nyaman saat bersamaku?”
Pertanyaan mendadak dari Raka membuat Jaka sedikit tertegun. Memang benar, ia masih belum terbiasa, tetapi kalau dikatakan sulit, sebenarnya tidak juga.
Karena tidak segera mendapat jawaban, Raka langsung membuka kunci pintu mobil dan berkata dengan suara dingin, “Naiklah. Tidur lebih awal.”
Setelah Jaka turun, Raka menyalakan mobil dan langsung pergi. Bahkan ia sendiri belum memahami mengapa dirinya marah.
Namun, Jaka memang selalu berpikiran lapang. Baginya, masalah kecil seperti itu hanya seperti kucing liar yang melintas di jalan. Ia paling-paling hanya akan memperhatikannya selama beberapa detik, kemudian melupakannya.
Raka baru berkendara sebentar, tetapi wajahnya semakin muram. Tiba-tiba ia memutar balik mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Karena makan hotpot, pakaian Jaka sedikit banyak menyerap baunya. Begitu masuk, ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Raka berdiri di depan pintu dan menekan bel beberapa kali. Setelah menunggu beberapa menit tanpa ada yang membukakan pintu, ia langsung memasukkan kode dan mendorong pintu hingga terbuka.
Agar lebih mudah keluar-masuk, mereka semua saling mengetahui kode pintu tempat tinggal masing-masing. Hanya saja, biasanya mereka jarang datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
Dan kali ini adalah pertama kalinya Raka membuka pintu lalu masuk seorang diri.
Melihat aula lantai bawah hanya diterangi satu lampu di dekat pintu, ia langsung naik ke kamar tidur. Benar saja, dari kamar mandi terdengar suara air mengalir.
Raka duduk di sofa dekat jendela besar, memejamkan mata, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Dua puluh menit kemudian, Jaka membuka pintu dan langsung menghentikan langkahnya saat melihat pria di sofa.
“Bukankah kau sudah pergi?”
“Ada sesuatu yang tertinggal di sini. Aku datang untuk mengambilnya.”
Raka tidak membuka mata. Suaranya rendah dan serak saat menjawab pertanyaan Jaka.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Kalau begitu, cari sendiri.”
Jaka sama sekali tidak meragukan ucapan Raka.
Ia berbalik hendak pergi ke ruang pakaian untuk berganti piyama, tetapi tiba-tiba sebuah kekuatan mendorongnya hingga jatuh ke ranjang. Pria itu segera menindihnya dengan berat tubuhnya.
Kedua kakinya tertahan, sementara kedua tangannya diangkat ke atas kepala dan dicengkeram erat. Posisi aneh itu membuat Jaka sedikit marah.
Sial sekali. Ia tidak mampu melepaskan diri.
Bibir Raka yang agak dingin menempel pada bibir Jaka yang baru saja selesai mandi, masih lembap dan hangat.
Ciuman itu tidak lagi selembut biasanya. Raka mengisap bibirnya dengan kuat hingga hampir seluruh udara dalam paru-paru Jaka direnggut.
Ketika Jaka merasa dirinya hampir kehabisan napas, pria itu akhirnya melepaskan bibirnya dan memiringkan kepala ke dekat telinganya.
Napas beratnya menyapu leher Jaka. Dengan suara tertahan, ia berkata, “Hatiku tertinggal di sini. Aku datang untuk mengambilnya kembali.”
Jaka tidak begitu memahami maksudnya.
“Selama bertahun-tahun, hatiku berada di tempatmu. Sudah terlalu lama dibiarkan di sana sampai terasa lelah.”
Mendengar nada Raka yang terdengar seolah-olah sedang mengadu, tiba-tiba hati Jaka terasa nyeri.
Api yang baru saja berkobar di sekujur tubuhnya belum padam. Dengan suara serak, ia berkata, “Hari itu kau melakukan semua itu kepadaku tanpa meminta persetujuanku. Aku bahkan tidak pernah memintamu mengembalikannya.”
Raka tertawa karena kesal.
Awalnya ia hanya ingin kembali untuk melihat sikap Jaka. Jika Jaka benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengannya, ia bahkan sudah memikirkan untuk melepaskan pria itu.
Namun, melihat pria di bawah tubuhnya kini tampak seperti seseorang yang baru saja dimanfaatkan, hatinya sungguh dipenuhi kebahagiaan.
“Baiklah. Kalau kau menginginkannya, akan kukembalikan.”
Setelah berkata demikian, ia melepaskan Jaka dan bangkit untuk menanggalkan pakaian luarnya. Saat Jaka mengira pria itu akan melangkah lebih jauh, Raka justru sudah masuk ke kamar mandi.
Jaka mengacak rambutnya, bangkit, lalu pergi ke kamar tidur untuk berganti piyama. Setelah itu, ia turun mengambil sebotol minuman keras dan sebuah gelas, kemudian duduk di sofa yang baru saja ditempati Raka dan mulai minum.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Raka keluar dengan tubuh yang masih diselimuti uap, hanya mengenakan sehelai handuk hitam yang melilit pinggangnya, menampilkan bentuk tubuhnya dengan sempurna.
Jaka mengangkat kepala dan menatap pria di hadapannya. Dada bidang, perut berotot dengan delapan garis tegas, sementara tetes-tetes air meluncur dari lehernya, melewati garis pinggang, lalu menghilang di balik handuk.
Bahkan kulitnya berwarna sawo matang yang sehat, sempurna tanpa cela.
Jaka tidak mampu menahan jakunnya yang bergerak naik turun. Dalam hati ia mengumpat, “Sial, dia benar-benar pamer.”
Gerakan kecil itu tentu saja tidak luput dari perhatian Raka. Ia berjalan mendekat.
“Bagaimana? Kau puas melihat tubuhku?”
Halaman (3/3)