Bab 62: Perhatian Semuanya Tertuju Padaku
Petugas meninggalkan tiga ekor burung pegar untuk mereka.
Cheng Cheng membersihkannya lalu memanggangnya di atas panggangan.
Shen Ranxin menunjuk ke arah panggangan. "Dari mana benda ini berasal?"
"Dari dalam tas," ucap Lu Zhi. "Baru saja dirakit."
Shen Ranxin akhirnya mengerti mengapa tas-tas itu begitu berat.
Bahkan panggangan barbekyu bisa dilipat dan dirakit, aku sungguh menyerah, seolah-olah baru saja dipukul seratus delapan kali di bagian mulut oleh preman sekolah.
Bagi enam orang, tiga ekor burung pegar sebenarnya sedikit kurang.
Terutama porsi makan Lu Zhi yang mampu menghabiskan ketiga ekor burung itu sendirian.
Shen Ranxin hanya makan beberapa suap lalu tidak sanggup lagi. Membuangnya terasa sangat mubazir, dan setelah ia cicipi, tidak baik juga jika diberikan kepada orang lain. Mau tidak mau, ia dengan cemberut memegang sisa daging itu di tangannya.
Lu Zhi menarik pergelangan tangannya, lalu menggigit bagian yang baru saja digigit oleh Shen Ranxin.
Shen Ranxin: "..."
"Hm, makanan yang sudah dicicipi Guru Shen memang terasa sedikit lebih manis daripada yang lain."
Shen Ranxin langsung menyumpalkan daging burung pegar itu ke tangan Lu Zhi. "Makanlah yang banyak."
Tatapan Cheng Cheng beralih ke arah mereka, sorot matanya menyiratkan sedikit rasa sedih. "Ran, apakah masakanku tidak enak?"
"Dia tidak suka makanan seperti ini." Lu Zhi mengangkat alisnya, lalu menyahut dengan santai. "Tuan muda kita seleranya ringan. Punya kamu ini bumbunya terlalu tajam, tidak enak."
Cheng Cheng mencibir. "Memangnya kamu bisa membuat yang enak?"
Seolah sedang melakukan trik sulap, Lu Zhi mengeluarkan sebatang cokelat dari saku bajunya.
Mata Shen Ranxin langsung berbinar saat melihat bungkus cokelat tersebut. "Bagaimana bisa kamu membawa cokelat? Sutradara Chen tidak menggeledah badanmu?"
Lu Zhi mengetuk pelan ujung jari Shen Ranxin dengan cokelat itu. "Dia tidak berani. Makanlah satu potong dulu untuk mengganjal perut di siang hari. Tuan muda kita pasti punya cara untuk mengatasi makan malam nanti, kan?"
Shen Ranxin membuka bungkus cokelat itu dan menggigitnya. Sesuatu yang jarang terjadi, ia tidak memukul Lu Zhi meskipun pria itu mendekat, melainkan fokus menikmati rasa manis bercampur sedikit pahit di dalam mulutnya.
Lu Zhi terkekeh pelan, duduk di samping sambil memerhatikan Shen Ranxin makan.
Meskipun berwajah dingin seolah menganggap semua orang adalah sampah, ia ternyata sangat menyukai makanan manis. Dulu, ia bahkan pernah mengalami sakit gigi karena terlalu banyak makan manis. Saat dipaksa berobat ke dokter gigi, ia sepertinya ingin mengucapkan semua kata memohon di dunia ini.
Gu Yifei mendekat. "Sebenarnya aku juga kurang suka daging burung pegar. Shen Ranxin, bisakah kamu membagikan separuh cokelatmu kepadaku?"
Shen Ranxin tertegun sejenak. Ia melirik cokelat di tangannya dan merasa sedikit berat hati, namun ia tetap mematahkan separuh untuk diberikan kepada Gu Yifei. Secara tidak sadar, ia melirik Lu Zhi dengan perasaan bersalah.
Lu Zhi bersandar pada batang pohon, memasang ekspresi urakan sambil tersenyum penuh arti. "Guru Shen muda benar-benar berhati malaikat ya, menggunakan barangku untuk berbaik budi pada orang lain?"
Shen Ranxin: "..."
Gu Yifei berkata dengan nada galak. "Apa maksud ucapanmu? Kalau kamu sudah memberikan cokelat itu kepada Shen Ranxin, berarti itu milik Shen Ranxin. Suka-suka dia mau membagikannya kepada siapa, apa urusannya denganmu!"
Shen Ranxin berdehem. "Berapa harganya? Nanti aku ganti."
"Tidak usah." Setelah berkata demikian, Lu Zhi bangkit berdiri dan berjalan menuju anak sungai di dekat sana. "Mana berani aku meminta Tuan Muda membayar."
Bagaimanapun, Shen Ranxin merasa tidak enak hati. Setelah Lu Zhi pergi, ia mengambil kembali setengah batang cokelat yang ada di tangan Gu Yifei. "Begini... Kamu makan daging ayam itu dulu untuk mengganjal perut. Nanti, nanti malam pasti tidak perlu makan lagi, tunggu aku kembali ya."
Gu Yifei: "Ha?"
Sebelum ia sempat bereaksi, Shen Ranxin sudah menarik kembali cokelat dari tangannya dan berlari menyusul Lu Zhi.
Lu Zhi sedang mencuci tangan di tepi anak sungai. Shen Ranxin menghampiri dan dengan lembut menendang punggung Lu Zhi dari belakang. "Sedang apa kamu?"
"Mencuci tangan." Lu Zhi berdiri, menyipitkan mata menatap Shen Ranxin. "Memangnya mau apa lagi? Guru Shen muda begitu terburu-buru menyusul, apakah ingin minta dicium?"
Shen Ranxin menggaruk ujung alisnya, lalu berbicara dengan nada yang ia anggap sebagai nada membujuk. "Kamu marah ya? Bukannya cuma membagikan separuh cokelat ke Gu Yifei, sebagai seorang Alpha kenapa harus sekecil itu hatinya? Sensitif sekali, mirip Omega saja."
Lu Zhi menarik Shen Ranxin mendekat, menunduk dan mengecup bibirnya. Rasa pahit sekaligus manis dari cokelat menyebar di antara mereka. Sambil melumat bibir Shen Ranxin, Lu Zhi berbicara dengan suara bergumam. "Sepertinya Guru Shen muda memang sengaja datang untuk minta dicium, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi."
Shen Ranxin tertegun sejenak. Tangannya yang mengenakan sarung tangan separuh jari terangkat secara spontan, seolah ingin mendaratkan sebuah tamparan pada Lu Zhi, namun gerakan itu berhenti di tengah jalan.
Dengan tubuh kaku, ia membiarkan Lu Zhi memeluk pinggangnya dan menciumnya selama belasan menit sebelum akhirnya ia mendorong pelan bahu Lu Zhi. "Sudah... Hm..."
Lu Zhi melepaskan ciumannya, menempelkan hidungnya pada hidung Shen Ranxin. "Shen Ranxin, apa pun yang kamu minta akan kuberikan. Tapi apa yang kuberikan padamu, tidak boleh diberikan kepada orang lain."
Shen Ranxin mundur selangkah, mengusap cairan jernih di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu memalingkan wajah dengan ujung telinga yang sedikit memerah tanpa berkata apa-apa.
Pria bernama Lu itu ternyata sangat mudah dibujuk. Begitu selesai mencium, amarahnya langsung lenyap. Bagaikan seekor burung merak, ia berkata dengan bangga, "Kabar baik, hari ini mencium Guru Shen muda tidak berujung pada pukulan."
"..." Shen Ranxin melotot tajam ke arahnya sambil bergumam, "Utangmu 52 menit, barusan totalnya menghabiskan 12 menit, catat."
Usai berkata demikian, ia langsung berbalik dan berjalan pergi. Lu Zhi mengikuti di belakangnya, melancarkan jurus tak tahu malu. "Semua ini salah Guru Shen muda, menggodaku sedemikian rupa sampai-sampai sekarang aku tidak hanya ingin menciummu saja."
Shen Ranxin melayangkan tendangan ke arah selangkangan Lu Zhi. "Pergi sana, penjahat mesum! Di siang bolong begini bagaimana bisa kamu mengucapkan kata-kata cabul seperti itu? Kamu mungkin tidak punya urat malu, tapi aku masih membutuhkannya!"
Lu Zhi berkata dengan penuh percaya diri, "Kalau punya urat malu, apakah bisa dapat istri?"
Shen Ranxin dibuat tertawa geli oleh ketebalan muka Lu Zhi. "Dasar murahan. Bukankah citra Tuan Lu di luar sana adalah seorang bos besar standar yang dingin, kejam, dan pendendam? Bolehkah aku tahu, apakah para penggemarmu sadar kalau kamu di luar sana bertingkah seperti anjing penurut?"
Lu Zhi berpikir sejenak. "Kamu ingin mereka tahu?"
Shen Ranxin: "Bukannya bermaksud begit..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Lu Zhi melangkah lebar. Pemuda berambut perak yang sedari tadi mengekor di belakangnya itu tiba-tiba sudah melesat mendahuluinya. Dengan penuh semangat, ia kembali ke area perkemahan, berdiri di atas sebuah batu yang agak tinggi, lalu berseru lantang.
"Semua, tolong letakkan pekerjaan kalian sebentar, mohon perhatiannya!"
Semua orang mengarahkan pandangan kepadanya. Beberapa kamera di tengah hutan juga diarahkan ke tubuh Lu Zhi atas kendali para kru.
Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, orang-orang melihat Lu Zhi mengangkat tangan dan berdehem untuk menjernihkan tenggorokan. "Semua mata tertuju padaku! Aku ingin mengumumkan sesuatu!"
Pupil mata Shen Ranxin bergetar hebat. Ia buru-buru berlari menghampiri untuk menarik turun makhluk yang gemar memalukan diri sendiri itu.
Namun, ia tetap terlambat satu langkah.
Dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, Lu Zhi bersuara lantang.
"Aku adalah anjingnya Shen Ranxin! Terima kasih semuanya! Selanjutnya, silakan dengarkan pidato penerimaan pialaku..."