Bab 30: Penghasutan
Setelah Su Qing pergi, para beastman menatap Zhuo Yang yang berada di belakang mereka dengan tatapan jijik.
"Dulu kau bilang tembok pertahanan Su Qing hanyalah tipuan mata, tapi nyatanya beastman dari Suku Beruang Hitam tidak bisa masuk."
"Kau bilang ketapel itu hanya pajangan, tapi nyatanya ketapel itulah yang memukul mundur para beastman Suku Beruang Hitam."
"Zhuo Yang, sebaiknya mulai sekarang kau berhenti berniat jahat untuk menjebak Su Qing."
Zhuo Yang mendengarkan pujian para beastman terhadap Su Qing, sekaligus cemoohan mereka terhadap dirinya. Ia merasa malu, marah, dan cemburu hingga hampir gila. Namun, ia tidak bisa membantah sepatah kata pun dan hanya bisa menerima cercaan mereka. Ia pun melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Su Qing.
Perempuan jalang yang tidak tahu malu itu, apa haknya? Dia seharusnya terpuruk di dalam lumpur dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Dengan tatapan bengis, ia menatap punggung Su Qing yang menjauh. Wajahnya berubah mengerikan, lalu ia melangkah pergi dengan tergesa-gesa.
Zhuo Yang menemui Sang Tetua Agung, lalu menyembunyikan wajah bengisnya. Ia memuji Su Qing luar dalam dengan tatapan yang penuh kekaguman.
"Su Qing memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia membantu semua orang mengalahkan Suku Beruang Hitam, para anggota suku sangat berterima kasih dan menghormatinya."
Tetua Agung mengangguk. Ia tentu tahu apa yang dilakukan Su Qing, namun ia tidak mengerti apa maksud Zhuo Yang. Tetua Agung menatap tajam ke arah Zhuo Yang, membuat jantung Zhuo Yang berdegup kencang. Dengan wajah yang penuh kekhawatiran, ia menatap sang Tetua.
"Status Su Qing di dalam suku saat ini sudah melampaui Anda, Tetua Agung. Saya merasa khawatir... untuk apa dia melakukan semua ini? Mungkinkah dia ingin menggantikan posisi Anda?"
Kata-kata Zhuo Yang membuat kening Tetua Agung berkerut dalam. Ia tahu betul betapa para jantan sangat memuja Su Qing, namun perkataan Zhuo Yang membuatnya terperosok dalam lamunan.
"Pergilah dan panggil Su Qing kemari."
Zhuo Yang menahan gejolak kegembiraan di hatinya, lalu mengangguk cepat dan pergi. Kali ini, ia pasti akan membuat Su Qing jatuh terpuruk.
"Untuk apa kau datang?" Su Qing mengerutkan kening dengan nada bicara yang tidak ramah.
Zhuo Yang menatap wajah cantik Su Qing, matanya dipenuhi rasa cemburu. Namun, demi rencana selanjutnya, ia menarik napas dalam-dalam dan memaksakan senyum.
"Tetua Agung memanggilmu."
"Apa alasanku harus percaya padamu?"
Pertanyaan Su Qing membuat Zhuo Yang kesal. "Hah, sekarang suku ini penuh dengan beastman yang memujamu, beraninya aku mencelakaimu!"
Su Qing tersenyum. "Jarang sekali kau bisa sadar diri."
Zhuo Yang mendelik kesal. Biarlah si jalang kecil itu bersikap sombong untuk saat ini. Mari kita lihat apa yang akan terjadi saat ia bertemu dengan Tetua Agung nanti.
Su Qing bersiap-siap, lalu pergi ke gua Tetua Agung. Saat Tetua Agung melihat Su Qing, pandangannya penuh dengan penilaian. Su Qing merasa bingung, namun ia tetap menatap lurus ke arah Tetua Agung.
Mengapa ia merasa Tetua Agung bertingkah aneh?
Tetua Agung melihat mata Su Qing yang jernih tanpa niat buruk lainnya, namun ia tidak bisa menahan diri untuk memercayai kata-kata Zhuo Yang.
"Mulai sekarang, tetaplah berada di sisiku!"
Su Qing tidak mengerti maksud Tetua Agung dan bertanya dengan heran. Namun, Tetua Agung hanya menatapnya dengan pandangan menilai tanpa berkata apa-apa.
Su Qing melihat Zhuo Yang yang tampak gembira di depan pintu. Ia merasa ini pasti ada hubungannya dengan perempuan itu. Baiklah, ia akan tetap di sini. Ia ingin melihat trik apa yang akan dimainkan Zhuo Yang.
Sore itu juga, Tetua Agung memberikan perintah kepada Su Qing untuk memetik dan meracik tanaman obat. Tugas yang diberikan tidak mungkin bisa diselesaikan seorang diri.
Su Qing mencibir dalam hati. Hanya ini? Jika ingin mempersulitnya, mereka benar-benar terlalu meremehkannya.
Dengan bantuan sistem, Su Qing bisa mengonsumsi pil obat seolah tanpa biaya. Ia bahkan bisa memanfaatkan waktu memetik tanaman obat untuk memperkaya gudang pribadinya. Ia menyelesaikan tugas itu dengan cepat, bahkan merasa belum puas.
Tetua Agung menatap ramuan yang diracik Su Qing cukup lama. Ia sempat ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya bungkam. Efisiensi kerja Su Qing dan kualitas ramuan yang dihasilkan memang lebih baik daripada miliknya, tetapi ia tidak sanggup mengakui bahwa dirinya kalah dari seorang junior.
Saat sedang senggang, Su Qing membuka buku catatan medis milik Tetua Agung. Semakin ia membacanya, keningnya semakin berkerut.
Tetua Agung terus mengamati Su Qing. Melihat keningnya yang berkerut, jantung sang Tetua berdegup tanpa sadar. "Apakah ada yang tidak benar?"
"Beberapa catatan obat yang Anda tulis bermasalah. Memang benar luka akan cepat tertutup saat digunakan, tetapi efek sampingnya sangat serius."
Wajah Tetua Agung berubah masam. Itu adalah hasil akumulasi pengalaman selama bertahun-tahun miliknya dan para Tetua Agung terdahulu. Sekarang, seorang betina kecil berani mempertanyakannya! Ia merasa wibawanya sedang ditantang.
Ia hendak menegur, namun saat menatap mata Su Qing yang tegas, ia teringat pada bakat Su Qing dan kontribusinya bagi suku belakangan ini. Ia pun menahan amarahnya.
"Jika salah, perbaikilah. Tapi aku harus melihat hasilnya. Jika terjadi kesalahan, kau harus dihukum karena telah menyinggungku dan para leluhur."
Su Qing menatap dengan teguh. "Saya tidak akan mempermainkan nyawa pasien mana pun."
Tetua Agung menatap punggung Su Qing yang pergi, kata-kata yang diucapkan Su Qing dengan lantang masih terngiang di kepalanya. Ia pun tidak bisa menahan diri untuk melihat, apakah Su Qing hanya membual atau memang benar-benar mampu.
Su Qing dengan serius memperbaiki catatan pengobatan di buku medis, menutup diri dari suara-suara di luar. Bahkan saat Lan Ling, sang peracik obat, beberapa kali mengajaknya bicara, Su Qing sama sekali tidak mendengarnya.
Setelah formula diperbaiki, Su Qing menyerahkannya kepada Tetua Agung. Tetua Agung melihat tanaman obat yang sangat umum itu dan mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa membuktikan bahwa khasiat obat yang kau tulis itu benar?"
Su Qing mengangkat alisnya. Sebelum ia sempat menjawab, terdengar keributan di depan pintu.
"Tetua Agung, Tetua Agung, tolong! Lan Zhe dadanya terkoyak oleh binatang buas!"
Meski kemampuan pemulihan beastman sangat kuat, luka ini terlalu parah. Su Qing berkata, "Kesempatan untuk membuktikan khasiat obat itu datang."
Ia mengambil beberapa tanaman obat yang telah ia modifikasi dan mulai mengoleskannya pada luka pria itu. Pria itu tertegun. "Mengapa obat ini terasa begitu sejuk? Biasanya saat memakai obat ini, rasanya sangat sakit, dan setelah itu kulit akan memerah selama beberapa hari, terasa perih sampai ke daging."
Tetua Agung menanyakan perasaan Lan Zhe setelah memakai obat tersebut. Lan Zhe mengatakan rasanya sejuk dan nyerinya berkurang. Luka Lan Zhe yang tadinya sulit menutup, kini mulai pulih secara kasat mata, dan wajahnya perlahan kembali berwarna.
Beberapa jantan lainnya saling bertukar pandang dengan gembira. "Obat ini jauh lebih baik daripada obat yang biasanya!"
Tetua Agung menatap Su Qing dalam-dalam, namun tidak mengatakan apa pun.
Su Qing bertanya pada Lan Ling, namun Lan Ling mengaku tidak bisa membantu karena ia pun tidak mengerti apa maksud Tetua Agung. Berdasarkan pengamatan Su Qing selama beberapa hari ini, sikap diam Tetua Agung mungkin adalah hasil terbaik yang bisa ia dapatkan.
Baru saja Lan Zhe pergi, terdengar suara cemas Sang Yu dari depan pintu.
"Tetua Agung, ibuku... mohon selamatkan ibuku."
Tetua Agung memberi isyarat pada Su Qing dan Lan Ling. "Ikutlah denganku. Ibu Sang Yu mengalami kesulitan saat melahirkan, kau ikutlah denganku."
Kondisi medis yang tertinggal membuat proses melahirkan bisa merenggut nyawa, apalagi jika terjadi kesulitan persalinan. Su Qing segera mengikuti.
Saat tiba di rumah Sang Yu, dari kejauhan sudah terdengar rintihan lemah ibunya. Su Qing dan Tetua Agung saling bertukar pandang, firasat buruk menyelimuti mereka.
Sang Yu membawa mereka masuk. Bau amis darah yang menyengat membuat Su Qing merasa tidak nyaman, namun saat melihat wanita yang terbaring pucat dengan keringat dingin di ranjang, ia melangkah dengan mantap.
Tetua Agung menyentuh perut ibu Sang Yu dan mulai meraba. Sang Yu bahkan tidak berani bernapas dengan lega.
Su Qing menatap ibu Sang Yu. Setiap kali Tetua Agung menyentuh perutnya, rintihan kesakitan keluar dari mulut wanita itu. Su Qing merasa bersyukur memiliki sistem kelahiran, jika tidak, mungkin saat melahirkan ia akan berakhir seperti ibu Sang Yu.
Suara dingin Tetua Agung memvonis nasib ibu Sang Yu.
"Sang Zhi, kau sudah terlalu sering melahirkan, tenagamu sudah habis. Ditambah lagi posisi janin yang salah, kita hanya bisa menyelamatkan bayinya."