Bab 5: Pengalaman Pertama Kaisar Muda
Dulu, ketika Yue Guan membaca novel fantasi, tokoh utama yang hebat itu kadang melangkah satu langkah saja sudah menembus satu alam. Hari ini, Yue Guan juga merasakan sendiri pengalaman itu: satu langkah, satu dunia.
Begitu ia mendorong pintu cahaya dan melangkah keluar, ia mendapati dirinya berada di dunia lain. Selain itu, pakaian yang dikenakannya telah berubah menjadi jubah naga kekaisaran. Ruangan di sekitarnya pun berganti menjadi istana kuno. Soal identitasnya, tampaknya sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Yue Guan merasa sangat terkejut: “Ini benar-benar mode peran nyata? Sebuah dunia virtual ‘Penguasa Dunia’?”
[Sungguh.] Sebaris tulisan muncul lagi di hadapannya.
Yue Guan teringat, ketika dulu membaca novel hiburan, ia juga pernah melihat ‘golden finger’ semacam ini: sebuah ruang virtual yang memungkinkan tokoh utama menjalani kehidupan berbeda dan meningkatkan kemampuan aktingnya. Dengan demikian, kemampuan akting tokoh utama yang luar biasa pun menjadi masuk akal dan bisa diterima oleh para pembaca yang suka logika.
“Tempat untuk meningkatkan kemampuan akting? Tidak buruk juga.” Yue Guan mengangguk kecil. Walaupun tidak sekuat yang ia bayangkan, setidaknya ini tetap sebuah fitur tambahan.
Terlebih, ruang virtual ini dibangun berdasarkan latar belakang ‘Penguasa Dunia’, yang sangat membantunya untuk mendalami peran.
[Di mode peran nyata, kau bebas bertindak, membuat karakter Kaisar Muda menjadi semakin hidup. Semakin baik yang kau lakukan, semakin tinggi pula tingkat penyatuanmu dengan karakter Kaisar Muda, sehingga kemampuan aktingmu saat syuting juga akan meningkat. Waktu bermain kali ini: 30 menit.]
Hanya tiga puluh menit?
Yue Guan mengerutkan kening. Kalau begitu, ia harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Namun, hal yang paling mendesak saat ini adalah memahami garis waktu yang sedang berlangsung. Kini, dengan statusnya sebagai kaisar, mencari tahu suatu hal adalah perkara mudah.
Lima menit kemudian, Yue Guan sudah bisa menebak, kini tengah berlangsung episode ketiga, tepat saat Kaisar Muda muncul.
Episode pertama ‘Penguasa Dunia’ lebih banyak menjelaskan latar belakang: pertengahan Dinasti Ming, sang kaisar sebelumnya mangkat, dan putranya naik takhta. Paman sang kaisar, Zhu Wu Shi, bergelar ‘Marquis Besi Tak Terkalahkan’, sangat sakti dalam ilmu bela diri. Sepuluh tahun sebelum kaisar sebelumnya mangkat dan penggantinya naik takhta, ia memerintahkan Zhu Wu Shi mendirikan ‘Paviliun Pelindung Naga’, sebuah lembaga dengan kekuasaan yang melampaui seluruh institusi pemerintahan, lengkap dengan surat kuasa dan pedang pusaka pemberian kaisar, yang bisa digunakan untuk ‘menebas raja yang lalim maupun pejabat yang korup’.
Setelah kaisar lama wafat, kaisar yang sekarang merasa terancam oleh Zhu Wu Shi, lalu menaikkan kekuasaan kepala kasim Dongchang, Cao Zheng Chun, untuk menyeimbangkan kekuatan. Namun Cao Zheng Chun justru memanfaatkan kesempatan itu untuk korupsi, menindas orang baik, dan berbuat semena-mena.
Itulah latar belakang ‘Penguasa Dunia’, yang penuh kejanggalan hingga membuat Yue Guan kehabisan kata-kata untuk mengomentarinya.
Wang Jing memang piawai dalam membuat drama silat, tapi soal sejarah kuno ia tak lebih dari anak sekolah dasar. Apa-apaan ini, para pangeran Dinasti Ming setelah Zhu Di sudah diperlakukan seperti ternak, apalagi punya tokoh sehebat Marquis Besi Tak Terkalahkan… Pendek kata, di Dinasti Ming tak mungkin ada orang sedemikian hebat.
Tapi itu hanya setting, Yue Guan pun tak akan repot-repot mengajari Wang Jing sejarah, ia bukan orang sebodoh itu.
Jadi, Yue Guan hanya bisa memulai dari karakter Kaisar Muda itu sendiri.
Setelah latar belakang selesai dijelaskan, cerita pun memperkenalkan empat tokoh utama, yakni empat detektif besar di bawah Marquis Besi Tak Terkalahkan: Surga, Bumi, Xuan, dan Huang. Di antaranya, detektif Surga nomor satu, Duan Tian Ya, detektif Bumi nomor satu, Gui Hai Yi Dao, dan detektif Xuan nomor satu, Shangguan Hai Tang, sudah menjadi tangan kanan Zhu Wu Shi dan dianggap ancaman oleh Cao Zheng Chun.
Hanya detektif Huang nomor satu masa depan, Cheng Shi Fei, yang belum menempati posisinya. Kini, dia baru saja terjebak masuk istana, dan karena tak ingin menjadi kasim, ia melarikan diri ke tingkat sembilan penjara Dongchang, di mana ia bertemu dengan jagoan besar tak terkalahkan, Gu San Tong, yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Gu San Tong mewariskan seluruh ilmunya dan jurus tubuh baja kepada Cheng Shi Fei, menunaikan tugasnya sebagai ayah yang malang.
Setelah berhasil keluar dari penjara, Cheng Shi Fei bertemu dengan Putri Yun Luo, adik sang kaisar, dan keduanya pun mulai beradu mulut layaknya pasangan yang tak pernah akur.
Di malam yang sama, sang permaisuri lenyap secara misterius.
Cerita ini lagi-lagi membuat Yue Guan ingin mengeluh. Permaisuri, mudah sekali lenyap begitu saja?
Sudahlah, hilang ya hilang saja, toh yang akan dimarahi penonton juga cuma penulis naskah.
Kehadiran Kaisar Muda di episode ini pun hanya sebagai pelengkap, ketika permaisuri hilang, ia hanya menunjukkan kepanikan, lalu menuruti saran Cao Zheng Chun untuk menyamar sebagai permaisuri. Kalau hanya melihat dari episode ini, ia benar-benar tampak bodoh sekali.
Dengan cerita seperti ini, bagaimana bisa menarik penggemar?
Tapi karena ini dunia virtual dan ‘golden finger’ itu memungkinkannya bertindak sesuka hati, Yue Guan berpikir sejenak, lalu langsung menuju kamar Yun Luo.
Cheng Shi Fei dan Yun Luo sedang bercanda ketika melihat kaisar datang, keduanya langsung kebingungan.
Yue Guan hanya punya waktu tiga puluh menit, jadi ia tak ingin membuang waktu. Ia segera mengusir Yun Luo dan hanya menyisakan Cheng Shi Fei untuk berbicara berdua.
“Cheng Shi Fei, kau telah menerima warisan Gu San Tong si Jagoan Tak Terkalahkan?” Yue Guan langsung ke inti permasalahan.
Cheng Shi Fei terkejut sekujur tubuhnya.
Bagaimana mungkin sang kaisar tahu apa yang baru saja terjadi?
Seolah menebak pikirannya, Yue Guan tersenyum tipis: “Aku adalah penguasa dunia, tak ada satu pun hal di istana ini yang luput dari pengawasanku.”
Dengan statusnya sebagai kaisar, mengetahui kehebatan Gu San Tong adalah hal yang masuk akal, dan dengan mengetahui hal itu, mengutus orang untuk mengawasi Cheng Shi Fei pun wajar saja.
Secara logika, Kaisar Muda memang sangat mungkin mengetahui semua ini, Yue Guan tidak mengarang sembarangan.
Cheng Shi Fei terintimidasi oleh Yue Guan, meskipun kini kekuatannya cukup untuk mengalahkan Yue Guan dalam sekejap, ia sama sekali tak berani bertindak.
Ia hanya berbisik pelan, “Orang-orang di luar bilang Baginda telah dikuasai Cao Zheng Chun, sehingga Baginda tak lagi dapat melihat kebenaran.”
Yue Guan tertawa lantang, “Di Dinasti Ming, kasim tetaplah pelayan keluarga kaisar, mana mungkin pelayan bisa menguasai tuannya?”
‘Penguasa Dunia’ memang drama silat yang bagus, tapi lebih karena pesaingnya jelek sehingga kualitasnya menonjol. Jika menyingkirkan perbandingan dengan drama lain, hanya melihat alur cerita ‘Penguasa Dunia’, banyak sekali hal mendasar yang membuat orang enggan menonton.
Belum lagi, dua bos penjahat utama, Zhu Wu Shi dan Cao Zheng Chun, punya banyak kejanggalan. Secara teori, kedua karakter ini sama sekali tak pantas jadi antagonis utama.
Hanya bisa dikatakan, sutradara dari Negeri Hong Kong jarang yang benar-benar memahami sejarah kuno, mereka kekurangan pengetahuan dasar sejarah, bahkan dalam beberapa hal kalah dengan siswa SMA di Tiongkok bagian tengah.
Bukan bermaksud menjelekkan, tapi begitulah faktanya.
Kembali ke cerita, Cheng Shi Fei hanyalah seorang preman kecil, di depan Yue Guan yang menampilkan wibawa seorang raja, ia langsung tunduk dan patuh.
Ia hanya penasaran, “Baginda, kalau Anda sehebat ini, kenapa membiarkan orang lain mengira Anda dikuasai Cao Zheng Chun?”
“Itulah sebabnya aku mencarimu.” Tatapan Yue Guan tajam menekan Cheng Shi Fei: “Aku punya musuh besar, maukah kau membantuku? Membasmi pengkhianat negara, menjaga negeri dan rakyat.”
Cheng Shi Fei sempat bersemangat, lalu menjadi gugup, “Apa aku bisa?”
Nada Yue Guan penuh makna, “Jika aku bilang kau bisa, maka kau bisa.”
Dengan lebih dulu merekrut Cheng Shi Fei sebagai orang kepercayaannya dan kemudian mengutusnya sebagai mata-mata di pihak Zhu Wu Shi, penonton akan tahu bahwa sang kaisar adalah pemimpin yang penuh strategi. Sehingga meskipun kemudian ia bertindak bodoh, penonton tidak akan menganggapnya bodoh, melainkan justru mengaguminya.
Kaisar muda semacam inilah yang cocok dengan gambaran pemenang sejati.
[Kau telah menunjukkan wibawa seorang kaisar sejati.]
[Aura Kaisar +1.]
Yue Guan tidak menyangka, ternyata ada kejutan yang menyenangkan.